Entah kenapa, suasana sunyi itu membuatku tiba-tiba iseng memegang tangan Bu Evi.“Bisa dua jam kita menunggu di sini, Bu.”
“Iya Pak,” sahutnya tanpa menepiskan genggamanku,
“Sabar aja Pak, dalam bisnis memang suka ada ujiannya.”Aku terdiam, tapi tidak dengan tanganku. Aku setuju. XXX Hindi Payudaranya tidak sebesar payudara istriku tapi tampak indah di mataku, seperti payudara gadis belasan tahun. “Iya… dari rumah gak ada rencana… tapi tadi mendadak ada keinginan… untunglah Bu Evi gak menolak…terimakasih ya sayang,” sahutku sambil memeluk tubuhnya dan mengecup mesra bibirnya.“Kita harus berterimakasih pada pemilik tanah itu, gara-gara dia gak ada di tempat, kita jadi ada acara mendadak begini.” kata Bu Evi perlahan sambil tersenyum dan memeluk pinggangku. Sesekali kuremas juga pantatnya yang montok dan padat itu, membuat Bu Evi mendapat kenikmatan lebih. Menjilati lehernya yang hangat, sementara tanganku mengelus jembut yang lebat itu. “Kita kok bisa tiba-tiba begini ya?” cetus bu Evi waktu sudah mengenakan pakaiannya lagi. Gerakan pantatnya makin lama makin dominan. Nanti aja di penginapan aku kasih semuanya…”
Aku ketawa kecil.



















