Benar yang dikatakan Zenit, tidak lama dari itu Minoru datang, “Sendirian kan?!”, ancam Zenit ketika membuka pintu. Desi porn Ku tunggu Zenit selesai menyiksanya saja agar aku baru bisa melampiaskan nafsuku.Lima belas menit berlalu, Zenit mulai bosan, dia terlihat puas dan tersenyum, “Cukup deh”, katanya sambil memandangi tubuh Minoru yang penuh dengan garis-garis merah bekas cambukan.“Sisanya buat lu bro, gratis, malam ini lu pake aja sepuasnya…”, kata Zenit lalu meninggalkan Minoru.Zenit duduk di sudut sambil main hp, akhirnya ini waktu ku. Aku tahu Zenit ingin menyerahkan Minoru kepadaku ketika dia tidak di sini lagi, video yang sedang kurekam ini bisa jadi ancaman untuk terus mengikat Minoru.“Hiks hiks hiks…”, Minoru menangis sambil melucuti pakaian dalamnya sendiri. Aku coba memberinya ide untuk berpesta saja di tempat prostitusi, tapi Zenit sedikit kurang suka.




















