Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, “oohh…, sshhtt…, uugghh…, sshhss…, sshhiitt…, aacchh…, oouuhh…”, nafasnya tidak lagi teratur. Desi XXX Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. Aku jawab, “Yaa…, nggak aku sia-sia’in”. Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. “uugghh…”, sedang aku sedikit berteriak, “aahh”. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar. “sstt…, hh…, sstt…”, mulutnya berdesis seperti ular.




















