Dia tersenyum. Aku juga demikian, aku selalu siap bekerja menjualkan perhiasan berlian dan berbagai bentuk perhiasan dari emas. Bokep Besar dan panjang. Aku tak pernah hamil. Dengan telaten, dia mengganti pembalutku. Usai makan, kami langsung mencuci mulut dan menyabun tangan kami di kamar mandi.“Ma, aku sudah gak tahan,” katanya merengek, persis rengekan anak SD.Aku tersenyum. Kami menyeruput kopi susu yang masih hangat. Kalau aku yang mengatakan itu, mungkin orang tak curiga. Dodi membiarkan penisnya di dalam vaginaku tanpa mengerak-gerakkannya. Dodi terus mengelus-elus klitorisku. Aku dan Dodi terlalu asyik. Kujepit penis itu sekuat tenaga. Kami melepas nafas kami yang memburu. Kali ini Dodi tak mau tidur di kamarnya. Aku melawan sekuat tenagaku. Dia berkata, sebaiknya aku tidak hamil lagi dan tidak melahirkan lagi, karena usiaku sudah menua. Jangan, sayang!” kataku.“Akan aku lakukan, Ma!” katanya sembari terus mengulum bibirku dan mempermainkan lidahnya. Aku pun tersanjung sekali. Aku lupa kalau hari ini Senin. Izinkan aku mengurusmu,” katanya lembut.




















