Ke mana ia? Ia sudah membereskan peralatan pijat. XXX Hindi Ah sial. Begini saja daripada repot-repot. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Ah masa bodo. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Aku mengurungkan niatku. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Lho, salon kan tempat umum. Tangannya halus. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Aku tidak tahan. Kaki disandarkan di dinding. Sudahlah. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Suara itu lagi. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan.




















