Itu yang ada di otakku. XXX Hindi “OK, sambungkan..!” Entah mengapa lidahku sulit diajak kompromi kalau sudah soal Felly. Tinggi 168 cm, berat proporsional dan sebuah fitnes center dengan rajinnya memahat tubuhnya beberapa kali dalam seminggu.Setelah sampai di dekatku, aku memutar kursiku hingga menghadap ke samping. Paling tidak aku kehilangan keperjakaanku gara-gara tempat ini beberapa tahun lalu. Itu saja. Aku bukan remaja frustasi yang melarikan diri ke dalam alkohol. Ternyata..?Tidak ada yang jelek dari Felly. Selama pacaran dengannya, ia sama sekali tidak tahu kalau aku suka minum.“Sejak kapan kamu minum Rick?”
Aku tidak menjawab. Entah mengapa rasanya lain sekali tubuhnya malam itu. Entah bagaimana ceritanya, kami ‘jadian’ lagi. Aku juga dapat sebenarnya. Selama pacaran dengannya, ia sama sekali tidak tahu kalau aku suka minum.“Sejak kapan kamu minum Rick?”
Aku tidak menjawab. “Hanya sedikit over drive.”
“Elo sendirian?”
Kujawab dengan anggukan lemah. What I need now is you in my bed.Jam 14.30 aku kembali ke kantor. Tidak ada niat sedikitpun untuk menindak lanjuti pembicaraan kami. “Bilang aku sedang keluar kantor,” balasku di interkom, “Kamu ke sini sekarang, jangan lupa kunci pintu kalau masuk.”
“Ah, Bapak.”Indri




















