Hubunganku dgn Lidya memang akrab sekali, meskipun tak bisa dikatakan berpacaran.Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayganku jalan-jalan mengelilingi Monas. XXX Hindi “Aku mencintaimu”, sahut Lidya agak ditekan nada suaranya. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herlambang. Tak ada yg istimewa. Sementara bagian bawah badanku semakin menegang serta berdenyut.Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dgn suara tertahan akibat hembusan napasnya yg memburu seperti lokomotif tua. Dua kakakku perempuan semuanya. Aku anak laki laki satu-satuya. Debaran di dalam dadaku semakin keras dan menggemuruh saat Lidya memeluk dan menciumi wajah serta leherku. Dua kakakku perempuan semuanya. Dan aku selalu memanggilnya Tante Amanda.“Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Amanda. Sedangkan aku tetap diam, tak memberikan reaksi apa-apa. Anehnya, hampir semua kawan mengatakan kalo aku sudah pacaran dgn Lidya, Padahal aku merasa tak pernah pacaran dgnnya. Namun sama sekali aku tak merasakan apa-apa.Dan sikapku tetap dingin meskipun Lidya sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herlambang. Kehangatan badannya begitu terasa sekali. Apa saja yg aku inginkan, pasti dikabulkan.




















