Tapi masih terhalang kain celana. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Bokep Sial. Membuang napas. Dadaku mulai berdegup lagi. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Dadaku mulai berdegup lagi. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Membuang napas. Si Junior melemah. Mbak Wien sudah turun. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Dingin. Sekali. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Hah..? Ia kerja di sana? Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa?
















