Sekarang aku menciumnya lagi, kini dgn lembut. Aku mendeham:
“belum Cah Sara” kataku:
“Aku bilang semuanya. Bokep Kuelus rambutnya yg sekarang tampak awut-awutan. Branya putih, berkembang-kembang. Nah, tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Terus, saya tiba-tiba juga wuda blejet, terus.. Suaraku penuh ketegasan namun juga bernada kuatir:
“Cah Sara, Cah Sara, kamu dalam bahaya besar. Dan dgn cepat ia membuka kaos T-shirtnya, meletakkan di kursi. Dapat-dapat ilmu gendamnya berbalik kepadaku. Jangan ? Kecil dan halus, seperti berbisik. Aku pura pura tertawa lega:
“naah, kalau kamu tidak rasa sakit, dapat geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Bahkan pernah suatu hari Juminten berteriak ? Kenyal dan hangat):
“ya sudah Cah Sara, aku kasihan kepadamu” kataku kebapakan:
“aku akan mencoba menolongmu, dgn sepenuh ilmuku. Bosen. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (tidak apa-apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Kasihan sekali kowe Cah Sara”.Sekarang aku mengangkat tubuhnya yg sudah lemas dari atas meja, dan dgn lembut membimbingnya ke dipan yg ada di sudut.




















