Tidak ingin terus dalam keadaan yang membuatku seperti orang bodoh itu, kulepaskan tanganku dari dekapannya dan pergi ke ruang kerjaku.Langkah kakiku menuju ruang kerja terasa semakin berat, Ida sebenarnya hanya ingin memulai sesuatu yang baik, tetapi mungkin aku terlalu serius menanggapinya. “beb,…bangun ih nggak ngantor kamu?” tanya Ida sambil menjepit hidungku. Bokep gue becanda kok…,,” ujarku
“beneran juga nggak apa-apa” sambung Ida
“nanggung gak sih rasanya kalo cuman gitu-gitu aja” lanjut Ida memancing ku
“terus maunya gimana?” tanyaku
“nggak ngerti-ngerti juga?” jawab Ida
“ngomongnya langsung aja, nggak usah berbelit-belit bingung gue” sambungku
“gue mau dientotin ama lo..beiby” balas Ida sambil menarik bajuku
Kurasakan seperti ada yang mencongkel keluar jantungku dengan pisau yang sangat tajam, tak ku sangka sebenarnya selama ini walaupun perbuatanku kepada Ida sangat kasar, ternyata dia masih memendam hasrat yang begitu dalam padaku. Sedih sekali melihatnya seperti itu, kulihat darah membekas di batang penisku. Aroma kewanitaan yang baru pernah seumur hidup ku cium ternyata sangat wangi, mungkin karena seringnya dirawat.




















