Mbah Suliyem hanya diam, tak berontak dengan kelakuanku padanya dibawah sinar lampu neon 5 watt sebagai penerang ruang utama di rumahnya. Mbah Suliyem tak berusaha menutupi bagian-bagian vital tubuhnya sehingga aku lebih leluasa untuk menikmatinya. XXX Hindi Entah karena setan penghuni tetap di tubuhku atau ada setan outsorching lewat, aku menarik dompet dan mengambil selembar uang Lima puluh ribuan.“uangnya disimpan saja mbah, saya ikhlas kok nganterin simbah … ini malah saya ada uang buat simbah tapi uang ini ada syaratnya… ““syarat apa mas?” Mbah Suliyem tampak kebingungan meskipun saat itu juga dia menerima uangku.“simbah boleh ambil uang itu kalau simbah mau kocokin kontolku?”Aku memang sudah menghitung resiko dengan perbuatanku ini, kalaupun terjadi penolakan, kecil kemungkinannya untuk menjadikan maslah buatku. Perlahan kulepas baju kebayanya, ia tetap tak bergeming.Bahka saat kukecup bibirnya yang sudah tak ada lagi kelembutan yang tersisa. kok bisa sampai kemalaman memangnya dari mana? Belum lagi dari hasil usahaku yang lain, dari ternak, dari penjualan isi ulang LPG dan usahaku lainya, belum lagi jika besok ada permintaan hasil bumi dari pedagang lain di pasar.“Uang sebanyak ini buat apa




















