Pukul 9 lebih sedikit. Ia pasti sibukmengatur rumah. Desi XXX membuka tali di kanan-kiri dan melorotkannya perlahan, membiarkan dua buah dadanya menyembul menantang,“kau boleh menyentuhnya,” Berdebar jantungku.Tubuhku seperti mendidih. Dan seperti biasa, sementara aroma angin menjelang hujan menerpa leher, setiap kali hendak hujan aku selalu teringat masa paling mengasyikkan dalam hidupku. Ia melepas tank-top dan melepas kaosku. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi,” ia menatapku tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku.“Sudah, ya, aku balik dulu” ia pamit. Mbak Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan beringas berkali-kali.“Kamarmu! Ia menghelaku ke kamarku dan menjerembabkan aku ke tempat tidur. Mendidik dadaku merasakan tangannya mendarat di pundakku. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan.Aku makin membara dan membara.




















