Tapi aku cukup puas.Sekali waktu, dengan berpura mengigau, aku merangkak di atas tubuhnya. Jantungku berdebar-debar. XXX Hindi Mengelus-elus si kecil yang telah bangun. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Aku segera pulang. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. Malam-malam, kalau Kak Tina tidur, aku menjelajahi tubuhnya. Saat itulah aku pertama kali melihat vagina wanita dewasa. Keringatnya mengucur, bau badannya tercium begitu menyengat. Perlahan kutekan dadanya, tetap tidak ada reaksi. “Sana, Urus sapi”, Usirnya kepadaku. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak tertarik membacanya. Mukaku tepat di antara bukit kembarnya, sedang kejantananku tepat di kewanitaannya. Bukan, beliau orang baik (sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu). Aku terus membacanya, jakunku yang mulai tumbuh bergerak-gerak menelan ludah. Pak Rochim tak pernah mengambil pembantu lagi. Aku tersipu malu. Kamu masih kecil dan polos”, Katanya.Siang itu aku pulang cepat dari sekolah, karena guru sedang rapat. Kak Tina menatapku. Kak Tina tak pernah lupa mengunci lemarinya. Aku menahan nafas.Tangan Kak Tina tetap mengelus dan meremas kejantananku dari balik celana. Aku semakin berani.

















