Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Desi porn Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Tes! “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Selera makanku mendadak punah. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.*******Sepekan sudah aku ke luar kota.




















