Keberuntungankah? Tapi ia dingin sekali. Bokep China Membuatku tidak berani. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Aku tidak berani menatap wajahnya. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Junior berdenyut-denyut. Yes. Tetapi, aku harus berani. Lho, salon kan tempat umum. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Bau tubuhnya tercium. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Bayar arisan. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Pijitan turun ke perut. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Hitam. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan.




















