Dingin. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. XXX Hindi Junior berdenyut-denyut. Pijitan turun ke perut. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Dan kubuka celana pantai. Ah. Aku memegang teteknya. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Dadaku mulai berdegup lagi. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Ia cukup lama bermain-main di perut. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Ia tidak bercerita apa-apa. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon.




















