Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini,” aku bicara gugup.“Namamu siapa, sih?” Tanya Mbak Marissa.“Mirza!”“Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Bokep indo Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Mbak sendiri?” tanyaku, sedikit gugup.“Nggak. Aku membuka selot dan membuka pintu. Aku menatap lapisan awan hitam itu sejenak. Ia mendekat dan melepaskan tangannya dari dadanya. Suaranya empuk dan meneduhkan.“Ya, rumah ini dulu rumah Pakde saya. Bibirnya merekah, pipinya merona dan pandangan
matanya benar-benar membuat dadaku berdebar-debar.“Perkenalkan, nama saya Fredi dan ini istri saya, Marissa. Tiba-tiba saja Mbak Marissa menarik kepalaku dan membenamkan dadanya ke wajahku.Dibantunya mulutku menemukan puting merah muda itu.




















