Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, “Tom, bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan disini”. XXX Hindi sshh…, masukin Toom…, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget Toom, Toomm…”, bisik ibuku tersengal-sengal. Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. “Toom…, udah dulu Tom…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu. Ayah mertuaku kemudian kawin lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkawinanku. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. “Tapi buu, Tomy rasanya emoh pisah sama ibu”. Aku naik ke atas ibu mertuaku bertelakan pada siku dan lututku.




















