Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul setengah lima. Sementara Captain Frank (instruktur terbangku yang funky dan hobby tidur saat pesawat telah level di puncak ketinggian) masih terdengar dengkurnya yang nyaring. Bokep asia “Ya udah, kamu buka sedikit deh kamarnya, aku naik ke lantai dua, kalo sepi aku langsung masuk kamar deh…”, katanya tak kuduga. “Makasih, sibuk ya?”
“Belum”
“Banyak tamu?”
“Biasa Mas”
“Nanti ngobrol yuk”
“Ini juga ngobrol”, katanya
“Temen kamu mana ?”
“Ke pantry”, mukanya memerah. Kulanjutkan jari tengah kananku dan.., “slet..!”, langsung tiga ruas masuk ke sana, jempolku menekan clitorisnya.“Haah.., Nov.., hmmm..”. Ular dipelukanku yang tadi diam dengan tabah kini berkelenjotan dengan panik tapi yang meyebabkanku makin sayang padanya adalah matanya. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. “Uh kelamaan ngobrol kapan akrabnya!”
“Kan nggak enak ngobrol di telepon…”
“Ke sini dong”
“Eh, ke kamar?”
“Iya”
“Waduh…”
“Kenapa.., takut?”
“Enggak.., gak enak aja kalo ketemu temen di lantai dua”
Aku diam sebentar, aku yakin Ana baru berpikir keras. “Dasar !”, katanya sambil senyum manis. “Heh bukan gitu nanyanya”, kataku. Kerinduannya bergejolak berpadu dengan sugesti dan fantasinya yang terpendam.Kubelai kepalanya sambil kucium bibirnya.



















