Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. XXX Hindi Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.Ke mana ia? Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Ayo..!Aku masih diam saja. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Bodoh, bodoh, bodoh.Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Membuatku tidak berani. Masih ada esok. Aku masih mematung. Aku tidak menjepit tubuhnya. Sekali. Lalu ngomong apa? Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti.


















