“Erik marah..”, pikirku. Xnxx bokep Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. ‘Senjata’nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. “Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Aku berteriak. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Maria” Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.“Aku..aku..sayang Erik”
“Erik adalah milikku..hanya milikku seorang”
Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. “Anak bodoh.. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Mungkin karena puber. pilihanku memang selalu tepat”, gumamnya. Tubuhku masih bergetar. “Ahh..!!” nafasku makin memburu.Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.




















