Ia kembali dengan membawa nampan berisi segelas air putih. Kemarin hari kemudian aku kembali ke rumahnya. Bokep Buah dadanya tidak besar, hanya pas setangkupan jariku. “Mau diulangi di sini?”
“Hussh, nggak enak sama kawan-kawan. Paginya dirinya memelukku dan mengatakan,
“Aku mau lagi di lain hari”. Aku mau keluar aacchhkk..” Ida memeluk punggungku lebih erat. Kulihat tarikan nafas Ida teratur, tetapi aku tahu ia tidak tidur meskipun matanya terpejam. “Sebetulnya saya mau nonton di Ramayana Theatre, tapi telah telat lagipula filmya nggak keren”, sambungnya lagi. Aku terkejut,
“Jam berapa sekarang?” tanyaku. “Kamu pakai pakaian yang sama dengan waktu itu ” komentarku. Lama-lama pikiranku menjadi tenang. Ia tetap memutar-mutar pinggul dan membikin gerakan naik turun. Ia menolak dan menepiskan tanganku, tetapi dibiarkan tanganku memeluk bahunya. “Aaacchh, teruskan Anto.. Aku menolaknya.





















