Kubuka bra hitamnya. Desi porn saa yaaang!!” Windy berceloteh tak jelas.Lidahku lebih cepat bergerak sekarang. Kuterima kuncinya, dan menyalakan tv menyaksikan film lepas yang tayang malem itu. Terlihat Windy bergerak cepat menutup gorden jendela di dua sisi ruangan ini. Saat kuangkat kepalaku menatapnya, terlihat buah dada Windy mulai menarik keinginanku meremasnya. Kalau bukan karena menemani mas membackup data akuntasi perusahaan ini tiap hari Sabtu, aku juga gak bakal ke sini mas.”
“Lah, bukannya tiap minggu kamu ke sini ngeberesin pembukuan?”
“Hiyo hiyo. Hingga akhirnya Windy terlentang di karpet dengan kaki berlipat di atas tubuhnya, menahan tubuhku di atasnya yang naik turun secara cepat menindih Windy. “Terus aku musti gimana?” tanyanya. Di depan tubuh Windy yang duduk di toilet itulah aku mengakhirinya. Biarlah, kupikir Ratih juga sudah dewasa. “Coba kau ganti dan putar film dvdku.”
“Yang India ya?”Aku beranjak dari tempat tidur ke meja rias Ratih. Setelah semuanya rapi, kuambil kaos longgar dan celana pendek, handuk serta perlengkapan mandiku.




















