Mendadak mulutku dipagutnya. “Kenapa Lis?”
“Maafkan saya Kang….”
“Kamu salah apa” Dia tak menjawab, masih terisak. Desi XXX Kutumpahkan semuanya ke dalam tubuhnya. Dia sebenarnya ingin sekolah sampai tingkat sarjana, hanya kebiasaan di kampung mengharuskan anak perempuan sdh berrumah-tangga ketika mencapai umur 16 atau 17 tahun. Aku dorong kepala Lilis menjauh, ciuman terlepas. Tp masih belum mau bicara. Aku coba menduga-duga, mungkin dia tak betah karena mengerjakan urusan rumah tangga mirip pembantu. Secepat kilat Lilis melepas dasternya melalui kepalanya. Kami, saya, isteri dan anakku tak pernah menganggap dia sebagai pembantu. Hingga suatu saat …. Mungkin dia mau keluar belanja, pikirku. Dia minta cerai dan ingin ikut isteriku ke Jakarta sambil siapa tahu bisa meneruskan sekolahnya dan menggapai cita-citanya menjadi sarjana pertanian. Ah, memang Aku peduli ? Baru sekarang jg Aku menyadari bahwa bongkahan itu nempel di tubuhku nyaris tak ada penghalang.




















