Uhh kembali aku dilanda ketegangan baru.Lidah itu kenapa kasar sekali bagaikan amplas menjilati setiap relung kehormatanku ini.. Tidak sadar, sangking merasakan nikmat, aku pun jatuh seperti tidak ada tenaga.Si Abang cepat bangkit meraih tubuhku dan menidurkan pada spring bed-nya, walaupun demikian aku masih sadar kalau kakiku juntai berada diluar spring bed. XXX Hindi Saya siap” lanjutku sambil tersenyum.“Ok.. Pijat cepat,” kata si Abang sambil menarik tanganku untuk dibimbing ke pundaknya.Aku pijat pundaknya.. Keras sekali penisnya terasa.. Wuih hebat juga lemari ini ternyata bukan sekedar lemari tetapi juga berfungsi sebagai pintu pikirku.Aku tersenyum kepada lelaki yang baru keluar dari “lemari” tersebut, kutaksir umurnya sekitar 50 tahun dengan rambut agak tipis mendekati botak namun cukup tampan tetapi tetap keturunan timur tengah seperti Fahmi.“Fahmi, masih banyak pelamar?” tanyanya dengan suara berat kepada fahmi tapi matanya sama saja dengan fahmi menatap tajam ke arah dadaku.


















