Sementara Sigmund, Elf baik hati dan rajin belajar tsb dengan segenap hati mengelap cairan squirtin’ si cantik yang membasahi ranjangnya.Sejurus kemudian Sigmund beranjak dari ruangan tsb lalu kembali membawa segelas air dan memberikannya pada Reva yang di rasanya begitu kelelahan. Desi XXX yyang !! saya tidak akan menyakitimu ” ucap Sigmund pada Reva setelah memakan permen ajaibnya.Kemudian Sigmund mencoba menjelaskan dan memberitahu Reva yang masih terikat tak berdaya, tentang di mana keberadaannya kini. Ia pun mempercepat pergerakannya, sampai menimbulkan suara becek dari dalamnya.” oooohhhh … iiiiiggghhhhhhh … sssssccchhhhhhhhh … ooouuuuffffffhhhhhhh … aaAAAAGGGGgggghh ” beragam desahan Reva mulai terdengar, menandakan bahwa ia makin tak kuasa di ‘coli-in’.Sementara satu tangannya masih meremas payudaranya sendiri, satunya lagi mencengkram erat tepian ranjang seperti hendak meremukannya.Sigmund makin membungkukan badannya, mendekatkan wajahnya pada vagina yang sedang berkontraksi tinggi sementara lengannya terus bekerja dengan giat, tanpa mempedulikan lagi gambar yang di tunjukkan screen monitornya, meski sebenernya dia sedikit kerepotan dengan satu paha Reva yang bergerak-gerak kegelian, mau tak mau, ia menahan paha tsb dengan satu tangannya lagi.Detik ke detik, dari pengamatan menjadi erangan.



















