Mbak Juminten tetap berdiri di depanku, menantikanku berakhir minum. Bokep China Teh itu tidak terlalu lama mengepul, udara dingin perkebunan ini membikinnya segera tidak begitu panas lagi. Aku menepuk2 keningku rugii kebodohanku. Dengan gerakan kasar aku luar biasa ke samping paha kirinya. Tubuhku pun telah hampir telanjang, pakaianku berserakan di lantai. Kami kembali berpagutan, pelan2 aku luar biasa ulur selangkanganku. “Apa yg aden inget waktu kejadian itu..” Ujarnya. Well..well..well..kapan kami dapat dapat berdua di kamar lagi mbak, ucapku dalam hati. Tiba2 aku tergelitik utk bertanya mengenai peristiwa dulu itu. Aku meletakanya pelan di atas meja kecil di depannya. Aku melepas kekalutan pikiranku dengan menghisap sebatang rokok di ruang tamu. Mbak Juminten tersenyum tipis, aku penasaran apa yg ada dalam pikiranya. “Yg kemaren itu..mbak gak marah dengan saya ?” Lanjutku.




















