kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku tidak menjepit tubuhnya.Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Desi XXX Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Ia tidak bercerita apaapa. Membuatku tidakberani. Aku menggelepar.Sst..! Ah.., wanita yanglehernya berkeringat itu begitu besar mengubahkeberanianku.Buka bajunya, celananya juga, ujar wanita tadi manjamenggoda, Nih pake celana ini..!Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi.Bahannya tipis, tapi baunya harum. Sebantar lagi MbakMona yang punya salon ini datang, biasanya jam seginidia datang.Aku langsung beresberes dan pulang. Wajahkumerah padam. Atau janganjangan ia juga disuruhibunya bayar arisan. Ah bodoh. Suara pletakpletok mendekat.Ayo tengkurap..! Ia tepatberada di tengahtengah. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruhbayar arisan.Mbak Wien.., gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Di mana? Ah. Sial. Kakikusandarkan di tembok yang membuat ia bebasberlamalama membersihkan bagian belakang pahaku.Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari.Inilah kesempatan itu. Masih melongo.Itu jendelanya dirapetin dikit.., katanya lagi.Ini..? Aku menurut saja. Masih melongo.Itu jendelanya dirapetin dikit.., katanya lagi.Ini..? Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar




















