“Basah ya? “Tapi punyaku bulunya jarang mbak, masih halus.” Tangannya membelah menyisir rambut bawahnya perlahan.“Kalau punyaku sudah banyak keluar, tapi sering kucukur. XXX Hindi pinjem ya mbak,” katanya bangkit dari tempat tidurku langsung berjalan cepat ke pintu.“Hati-hati menyimpannya,” seruku sambil melanjutkan unpacking isi kardusku. Windy memejamkan mata saat menghisap semua energiku, menelannya dan menyapu sisanya dengan lidahnya. Ratih memjamkan mata. pinjem ya mbak,” katanya bangkit dari tempat tidurku langsung berjalan cepat ke pintu.“Hati-hati menyimpannya,” seruku sambil melanjutkan unpacking isi kardusku. Iihh aku terkejut akibat rasa sensasi nikmatku bertambah saat Windy menghisapnya.Terasa beberapa detik cepat berlalu, berlomba dengan gerakan Windy. Kutarik ke atas kaosku, kulepaskan sekarang lewat kepala. Setelah beberapa lama kami berpelukan, aku mulai meninggalkannya di tempat tidur, merapikan celanaku dan mengenakan kaosku. “Mungkin jarimu kau masukan?”
“Tadi memang pingin memegangnya, terasa enak terus keterusan memegangnya,” jelasnya. Bersaamaan itu juga masuklah pangkal pegangan sisir sikat Ratih ke dalam lubang bawahku. Enak kalau mulai tumbuh lagi, geli-geli gimana gitu.”Aku berdiri sekarang menghadap Ratih.




















