Aku tidak beranimenatap wajahnya. Junior berdenyutdenyut. XXX Hindi Kali ini lebihbertenaga dan aku memang benarbenar pegal,sehingga terbuai pijitannya.Telentang..! kataku.Ya itu.Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik ditelingaku di atas ranjang yang putih. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang.Aku hanya main dengan tangan. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengahbaya yang meleleh keringatnya di angkot karenakepanasan. Pintu salonkubuka.Selamat siang Mas, kata seorang penjaga salon,Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?Massage, boleh. Lalu ia mengolesi dadakudengan cream. katanya lagi seperti iri padaWien.Aku mengambil pakaianku. Lalu ngomong apa? Kali ini dengan telapaktangan. Tetapi aku masihbetah di atas mobil ini. Ah. Saya bisa masuk angin. Ataujanganjangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya purapura masuk. Lalu ia mengolesi dadakudengan cream. Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Ah.., selangkanganku disentuhlagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskancream. Aku masih mematung. Ayo. katanya.Halo..? Akumeringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tetapi berlari. Aku menurut saja. Daripada suntuk diam di rumah, tadimalam aku menyelesaikan kerjaan yang masihmenumpuk. Adacairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayangbayang wanita yang dilehernya




















