Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. Bokep asia Tes! Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Subhanallah … Alhamdulillah…********Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. Katanya mau kayak Rasul? Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Dug! Air mataku jatuh tanpa terasa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.“Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.*******Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini.




















