Ning.. Sesampainya di dapur, terdengar Naina suara pintu dari kamar mandi, eh ternyata Naina barusan saja masuk ke kamar mandi dan kesempatan ini aku tidak sia-siakan saja. Bokep China ya!” erang Naina sambil berpegangan dengan dadaku. aku juga.. Weoe.. sstt.. boleh nggak kalau Septian bantuin beres-beres barangnya?” rayuku. ya.. cepat.. sstt terus.. Seperti biasa tiap pagi perutku tidak bisa diajak kompromi untuk berunding tentang masalah makan, langsung saja setelah merapikan diri (belum mandi nih) langsung mencari makanan untuk mengganjal perut yang “ngomel” ini. “Apa lagi he..” sambil mengelus-elus pipiku. Aku mulai meraba di bagian leher Naina dengan masih menggigit bibir bawahnya dan mata tertutup rapat dan perlahan-lahan turun di dekat bongkahan dada yang aduhai itu dengan sedikit menyenggol-nyenggol BH-nya dan ternyata dia mengerti maksudku dan.. terus.. sesstt.. Naina ini anak kedua dari tiga bersaudara, dia tidak kuliah lagi karena tuntutan orang tuanya untuk membantu berjualan nasi kuning saja. “Ah.. luar..” aku makin mempercepat dengan memegang pinggul Naina.




















