Nadya mulai terbuka pada orang2 kantor. Desi XXX Nad
ya. Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku berlari mengintip ke jendela. Bibir Nadya sungguh hangat. Ahhhhh. Aku berlari mengintip ke jendela. Suasana kantor agak gelap karena memang sudah tidak ada siapapun. tanyaku. Mukanya mulai memerah. Sial, pikirku. Sudah barang tentu dia pasti tidak akan menjawab jika aku sekedar ingin mengobrol atau berbasabasi dengannya. Begitu elegan dan anggun. Ga ada bagus2nya! Kedua tangannya melingkari leherku. Bikin pusing. Aku tiduran terlentang di ruang rapat, dan Nadya menimpa tubuhku. Aku merhatiin kamu terus semenjak pertama kali masuk kantor Nadya kembali berbisik. Saling berciuman, berpelukan dan menikmati keindahan tubuh masing2.Hingga pada akhirnya Nadya telentang di atas karpet, kepalanya tepat berada di bawah kepalaku. Aku kaget. Aku tadi telah lancing berbicara seperti itu kepada Nadya. Melihat Nadya yang bagaikan malaikat itu memakai bajunya satu persatu. Akhirnya rapat selesai juga. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bukan karena aku tidak laku, tapi aku masih agak shock ketika setahun yang lalu pacarku selingkuh dengan sahabatnya sendiri.


















