“Iya, Bu” jawabku lagi. Pernah suatu ketika, aku sedang santai di kantor karena tidak ada order pembuatan iklan. Desi XXX Kurasakan tangan Mbak Titis meremas lembut kemejaku. Kuarahkan penisku ke vagina Mbak Titis. Kamu kok pinter banget sih…”, kata Mbak Titis manja. Ahh… Memikirkannya aja aku udah ngaceng gini.Singkat cerita, malamnya aku lagi-lagi harus lembur nungguin penyiar terakhir kelar. Lalu kutusuk lagi dengan gerakan cepat. Mbak mulai mendesis lagi. Mbak Titis lagi-lagi melenguh panjang. Demikian juga Mbak Titis memberiku pengalaman, dan sensasi-sensasi baru lainnya.,,,,,,,,,,,,,,, Kulirik jam tanganku, masih jam 11. Setelah hari itu, selama empat hari aku nemenin Mbak Titis tiap malam. Gila neh! Mbak Titis hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Gurih terasa di muluntuku. Melihatku duduk Ibu Titis bertanya apakah semua order iklan sudah selesai. Sejak pertama kali masuk kerja di radio itu, aku udah kepincut dengan Ibu Titis.



















