Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Bokep China Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Shit! Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Aku tidak berpakaian kini. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Lalu pindah ke pangkal paha. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Ah sial. Ia terus mengelap pahaku. Ia terus mengelap pahaku. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Ah bodoh. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun.


















