Aku agak heran tapi mungkin akan surprise terpaksa aku menutup mata. Aku mendesis-desis merasakan sesuatu yang nikmat. Desi XXX Kemudian aku diangkat dan aku sempat kaget!“Kak Agun…, kuat juga”. “Bukan, tapi tutup mata dulu”, kata dia. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Saat itu aku masih SMP kelas 2, Kak Luna sudah di SMA kelas 2. “Nah…, karena kamu sudah menyelesaikan PR-mu, aku kasih hadiah” kata Kak Agun. Mending bantuin aku ngerjain PR”. Saat itu aku benar-benar panas dingin, napasku memburu, suaraku rasanya hanya bisa berucap dan mendesis-desis “ss…, ss…”,. Aku jadi geli, tapi yang jelas saat itu aku merasa beda. Walaupun aku merasa biasa-biasa saja (Tapi dalam hati bangga lho.., he.., he..)Aku punya body bongsor dengan kulit putih bersih. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Semenjak dia punya pacar, rasanya semakin jarang aku dan kakakku saling berbagi cerita. Tubuhnya yang dibalut kaos ketat nampak basah keringat.“Barusan olah raga…, muter-muter, terus mampir…, Mana Kak Luna?”, tanyanya. Aku ngeri, dan takut. Aku protes, “Datang-datang…, bikin repot.




















