“Iya sih, kan Denok keluar dulu cinta”, katanya genit . Mbak Ratih lalu duduk, masih memejamkan matanya dan lemas. Bokep jepang Dan dia jadi pembantu di rumah ini sudah lama. Kalau mengerti mengangguklah!”, kataku. Kuciumi dua bukit kembar itu, sambil kugigit sekali-kali, perjalananku ke bawah, ke perut, lalu kulihat memeknya yang ditumbuhi sedikit bulu. Ingin masuk saja sepertinya. “Baru pertama ya den?”, tanyanya. Diremasnya rambutku, dan aku terus-menerus melanjutkan aksiku, sambil kuremas toketnya. “Lagi ngapain?”, tanyaku. Ia menubrukku di sofa. “Jangan hiraukan suara lain selain suaraku”, kataku. Aku tindih tubuh mbakku. Dan…..Denok sudah dalam pengaruhku. Tenang aja deh ndak bakal aku apa-apain, lagian juga belum tentu berhasil”, kataku. Dia sudah dalam lapis keempat. Paling tidak aku tidak secepat tadi pagi dengan Denok. Tubuhnya sintal, ndak gemuk, juga ndak kurus. “Bersihkan”, kataku. Kalau tidak bisa ya udah”, kataku. “Pernah bercinta?”, tanyaku. Esoknya hari minggu. Mbak Ratih hanya naik turun nafasnya, mendesah. Apabila sudah sampai, mbak akan terasa lelah, matanya sangat berat dan mengantuk. Denok sendiri seorang janda, anaknya berada di desa diasuh oleh orang tuanya.




















