Sebentar lagi pasti hujan. Desi XXX Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan.Aku makin membara dan membara. Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan.Aku makin membara dan membara. Aku terkejut. Aku membuka selot dan membuka pintu. Dadanya bergoyang-goyang ketika ia mengisyaratkan kedinginan.Aku memberikan lilin itu dan memberanikan diri menatapnya agak lama sambil sesekali memperhatikan dadanya.“Kamu nggak takut sendirian? Kubiarkan ia terus mengerang dan mengaduh, mendesah. Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Bila bertatap mata dengan Mbak Marissa, dadaku berdebar-debar. Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat.“Eit, kau melihat dadaku terus!” Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Ayahku mengangguk.Fredi kemudian memeluk dan mencium pipi MbakMarissa mesra. Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Tadi padi mereka terbang ke Banjarmasin untuk menengok kakakku yang melahirkan. Aku tahu banyak cewek cantik di sekolah naksir aku, tapi aku tak pernah tertarik. Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin.




















