Sampai saat ini aku tidak terlalu ambil pusing dengan kebisaanku, yang penting orang itu bahagia atau senang bila aku beri jalan keluar, yah sudah aku pun senang tanpa pamrih apapun.“Aku panggil mbak atau apa nih supaya kita dapat berbicara lebih santai?”“Yah Ayu saja…” sambil dilulurkan tangannya padaku.Tanpa kusadari aku balik telapak tangannya kemudian aku bicara tentang garis hidupnya dari nasib, rejeki, jodohnya. Terus aku gumuli tanpa sisa dari ujung rambut sampai kaki.Baru kubuka BH yang berwarna hitam kemudian CDnya yang juga berwarna hitam. Desi XXX Setelah makan aku istirahat di bangku halaman belakang, Ayu duduk persis disebelahku dan menghimpit badanku.“Mas kok dari tadi tak mempunyai rasa… gimana gitu terhadap wanita…”Wah… ini pertanyaan yang membuatku merinding dan tertantang sebagai seorang laki-laki.“Maksudnya apa?” kataku dengan pura-pura tidak mengerti.Tangannya mulai bertengger diatas pahaku akhirnya kugenggam dengan sedikit mesra. Aku terus berkomunikasi dengannya melalui telpon dan perbuatan itu hanya sekali kulakukan dengannya. Tatapan mataku menerawang jauh, dan tiba-tiba bertemu mata dengan wanita yang duduk di sebelahku tadi. Dengan perlahan aku masukan kemaluanku kedalam sumur kenikmatan yang masih sempit. Meskipun usiaku sudah menginjak kepala




















