Aku meneteskan air mata.“Ayo jawab, sayang…” katanya berbisik di telingaku.“Aku terima maharmu dengan tubuhku sendiri,” kataku latah.Dodi tersenyum manis dan aku juga tersenyum. Tapi jika Dodi yang mengatakan itu, pasti orang tanda tanya. Bokep China Ayo, Nak. Dodi memintaku untuk menungging yang katanya gaya anjing. Dodi setuju. Dengan lesu Dodi mengecup bibirku sejenak. Kami bercerita tentang sekolah cucuku, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Jika kami berdua di rumah, Dodi selalu memanggilku sayang. Tapi aku tak menyesal. Menurutku sangat manjur dan sangat murah.Dalam perjalanan, kami singgah di sebuah warung kecil agak di sudut. Oh… lidah itu, bermain-main di sana. Kami melepas nafas kami yang memburu. Akhirnya, setelah menjelang subuh, kami belum juga memejamkan mata. Mama segalanya bagiku,” katanya pula.“Jangan, Dodi… nanti ketahuan.” kataku.“Kita harus pandai merahasiakannya, Ma.” jawab Dodi, sembari terus menggenjotku dari atas.“Tapi…”“Ya, kita harus pandai menjaga rahasia ini, Ma,” jawabnya. Haidku kental dan hitam. Hasilnya lumayan banyak.“Ma, Mama aku jemput ya?

















