Aku tertipu. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Bokep Sial. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Kami seperti tidak ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.Hawin menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Dadaku mulai berdegup lagi. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Ayo. Kini pindah ke paha sebelah kanan.Ia tepat berada di tengah-tengah.




















