Ia selalu sengaja memakai baju-baju kerja yang menonjolkan keindahan tubuhnya. Akhirnya aku meledak. Bokep asia Tidak ada niat sedikitpun untuk menindak lanjuti pembicaraan kami. Keterlambatanku dengan selalu menyalahkan kapitalis-kapitalis rakus itu, dimaafkannya dengan mudah. Kedua tangannya bertumpu di atas meja. Aku sudah beres-beres ketika interkom itu berbunyi lagi. Kami keluar di jalan Sunda terus menuju Thamrin. Dan teringat Felly. Tapi entah mengapa aku tidak tertarik padanya. Dicemberuti oleh si Indri. Sangat berbeda dengan ketika kukenal ia 2 tahun yang lalu. Gawat pikirku. Kubuka kaca jendela. Ketiga temanku berhasil mendapatkan DFA di sana. “Bilang aku sedang keluar kantor,” balasku di interkom, “Kamu ke sini sekarang, jangan lupa kunci pintu kalau masuk.”
“Ah, Bapak.”Indri sekretaris terbaik yang kumiliki. Mungkin a quicky morning akan melupakan Felly. Sejenak aku linglung. Aku benar-benar tidak kuat untuk stir mobilku.




















